Senin, 23 Oktober 2017

Tugas Softskill 2 (Kasus Pelanggaran dan Kasus Etika Profesi)

Nama   : Vera Verina Tanadinata
NPM   : 2A214993
Kelas   : 4EB37


Pada tanggal 17 Oktober 2017, saat dalam perjalanan pulang saya melihat pelanggaran yaitu angkutan umum yang berhenti dipinggir jalan atau yang sering disebut ngetem. Pada saat itu keadaan cukup ramai, angkot itu pun tidak menghiraukan kendaraan dibelakangnya padahal karna dia yang berhenti cukup lama itu membuat jalanan menjadi semakin macet. Tidak sedikit pengendara mobil atau bahkan motor sekalipun yang membunyikan klakson, namun supir angkot tersebut hanya melihat dan tetap tidak jalan.
18 Oktober 2017, hari ini saya pergi bersama ibu saya dan dalam perjalanan tepatnya di jalan Ir. Hj. Juanda saya melihat orang mengendarai motor bertiga dengan kecepatan yang cukup kencang dan bahkan tidak memakai helm satupun. Padahal pada saat itu keadaan habis hujan dan jalanan cukup licin. Saat dilampu merah kebetulan saya bersebelahan dengan mereka, setelah lampu hijau orang yang mengemudikan motor tersebut langsung tancap gas lagi dan hampir saja menyerempet motor didepannya. Untung saja orang didepannya langsung menghindar, bagaimana jika orang yang didepannya itu kaget lalu jatuh. Tindakan orang yang seperti ini sangat meresahkan pengguna jalan lainnya.
19 Oktober 2017, sore hari saya jalan bersama adik saya ke MOR yang berlokasi tidak jauh dari rumah. Dan saat itu saya melihat pengendara motor yang membawa muatan berlebih, orang yang diboncengnya membawa kayu yang cukup panjang. Hal itu sangat membahayakan pengendara lainnya jika ia tidak benar-benar hati-hati.
20 Oktober 2017, hari ini saya kuliah di J3 kalimas tepatnya pukul 08:30 WIB saya berangkat dari rumah. Saat itu jalanan cukup ramai dan macet, ada satu pengendara motor yang nekat naik ke atas trotoar dan berjalan disana. Hal itu membuat saya sedikit kaget karna trotoar dijalan ruko kalimas cukup tinggi, namun pengendra itu tetap naik. Entahlah, mungkin karna ia memang sangat terburu-buru, makanya ia nekat melewati trotoar tersebut. padahal hal itu sangat membahayakan, bukan hanya dia tapi juga untuk pengendara lainnya.
21 Oktober 2017, pagi hari sekitar pukul 08:00 WIB saya berada di Stasiun Bekasi, saat itu saya sedang mengantri untuk mengisi Kartu Multi Trip (KMT) saya, tepat disamping saya adalah antrian untuk pembelian kartu harian atau THB ada seorang ibu-ibu yang dengan santainya menyelak dibarisan depan dan ada orang dibelakangnya yang tidak terima lalu meneriakinya untuk antri dibelakang. Untung saja ibu ibu yang menyelak tadi langsung keluar dari barisan antrian, jika tidak mungkin bisa saja mereka berkelahi.
22 Oktober 2017, hari ini kebetulan ada lab di kampus J1 Kalimalang. Sore hari saat dalam perjalanan menuju kampus tepatnya di Jalan Kartini, saya melihat ada orang yang membuang botol plastik bekas minuman ke pinggir jalan. Memang tidak ada larangan untuk membuang sampah, tapi itu adalah jalan raya seharusnya ia tidak membuangnya sembarangan.
23 Oktober 2017, pagi hari saat saya ingin berangkat kuliah tepatnya dilampu merah depan BCP ada satu mobil yang berhenti dijalur khusus untuk pengendara yang akan belok ke kiri. Hal itu menyebabkan pengendara lain yang ada dibelakangnya terus menerus membunyikan klakson agar ia jalan, karna ia memang salah. Mobil tersebut ingin jalan lurus tapi malah berhenti dijalur untuk berbelok ke kiri yang mana untuk belok ke kiri langsung dan tidak menunggu lampu merah. Sehingga pada akhirnya jalananpun menjadi macet, bukan hanya karna lampu merah tapi juga karna mobil tersebut.



Kasus Etika Profesi (Kasus Malinda Dee – Citibank)

Malinda Dee 47 tahun, terbukti melakukan pembobolan dana Citibank pada tahun 2011. Malinda memalsukan tandatangan nasabah untuk memindahkan beberapa dana didalam formulir transfer. “sebagian tandatangan yang tertera pada blanko formulir transfer adalah tandatangan nasabah” ujar Tatang Sutarma, Jaksa Penuntut Umum pada Selasa (8/11/2011)
Malinda berhasil melakukan pemalsuan tandatangan hinga 6 kali pada formulir transfer Citibank dengan nomor AM 93712 pada tanggal 31 Agustus 2010 senilai 150.000 dollar AS. Selain itu pemalsuan juga dilakukan pada formulir nomor AN 106244 sebesar Rp 99.000.000 yang dikirim ke PT. Eksklusif Jaya Perkasa. Dalam transaksi transfer ini ia menulis pada kolom pesan sebagai berikut “Pembayaran Bapak Rohli untuk pembayaran interior.”
Pemalsuan tandatangan juga ia lakukan pada formulir nomor AN 86515 pada tnggal 23 Desember 2010 dengan penerima PT. Abadi Agung Utama. “penerima Bank Artha Graha senilai Rp 50.000.000 dan pada kolom pesan tertulis DP pembelian unit 3 lantai 33 combine unit” ungkap jaksa penuntut umum. Dengan menggunakan nama serta tandatangan palsu rohil, Malinda juga mengirim uang sebesar Rp 250.000.000 pada formulir AN 86514 pada tanggal 27 Desember 2017 kepada PT. Samudera Asia Nasional dan formulir AN 134280 pengiriman  kepada Rocky Deany C. Umbas pada tanggal 28 Januari 2011 sebesar Rp. 50.000.000 untuk pembayaran pemasangan CCTV, milik Rohli.
Selain itu tandatangan palsu beratas nama korban yaitu N. Susetyo Sutadji yang dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu dalam formulir Citibank nomor AJ 79026, AM 122330, AM 122340 dan juga AN 110601. Malinda mengirim uang senilai Rp 2 milyar kepada PT. Sarwahita Global Management Rp. 361.000.000 kepada PT. Yafiro International, Rp. 700.000.000 kepada Leonard Tambunan, dan 2 transaksi lainnya sebesar Rp 500.000.000 dan Rp 150.000.000 yang dikirimkn kepada Vigor AW. Yoshuara secara berurutan.


Sumber: https://rajadariusputra.wordpress.com/2016/11/30/10-contoh-kasus-pelanggaran-etika-profesi-tugas-3/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar