Kamis, 14 Juni 2012

True Love



“aaaaaaaaaaaa” teriak Callysta yang baru saja terbangun dari tidurnya dan melihat jam weker yang ada diatas meja tepat disebelah tempat tidurnya. Tak lama kemudian Nathan masuk kekamarnya memastikan apa yang terjadi oleh Callysta
“ngapain sih lo teriak-teriak? Berisik tau” tegur Nathan
“kenapa lo ga bangunin gue sih? Telat nih” sahut Callysta dengan kesal

Callysta Tan itulah namanya singkat padat dan jelas, kedua orangtuanya lah yang memberikan nama itu menurut kedua orang tuanya Callysta itu mempunyai arti ‘kecantikan yang luar biasa’ dan Tan itu nama keluarga mereka, Callysta adalah anak kedua dari dua bersaudara. Nathanael Tan adalah kakak semata wayangnya Callysta, ia seorang cowo yang berpostrur tubuh tinggi dan bisa terbilang mempunyai tubuh ideal karna tidak gemuk tidak kurus juga, dia juga memiliki wajah yang tampan dan mirip seperti papanya sedangkan Callysta mirip dengan mamanya.


Papa, Mama, dan Nathan sedang sarapan diruang makan. Roti dan susu adalah menu sarapan pagi hari ini, hingga saat ini Callysta belum juga keluar dari kamarnya.

“cal.. callysta” teriak Mamanya
“iya ma iya” jawabnya yang sedang terburu-buru menuruni anak tangga karna kamarnya berada dilantai 2 rumah ini. Callysta turun dengan membawa beberapa buku ditangannya
“sarapan dulu” ucap Papa
“aduhh pa ga usah deh aku udah telat nih” jawab Callysta yang sedang membenarkan tali sepatunya “nat ayo berangkat” lanjutnya.

Walaupun Nathan adalah kakaknya namun Callysta hanya memanggilnya dengan sebutan nama, ia sudah terbiasa hanya memanggil nama dengan kakaknya itu. Mereka juga Cuma beda satu setengah tahun, saat ini Callysta kelas 11 dan Nathan kelas 12 kebetulan mereka satu sekolah karna mama dan papanya yang suruh mereka untuk satu sekolah.


Ada sebuah mobil sedan yang sedang terpakir manis didalam garasi rumah, mobil itu adalah milik Nathan saat ulang tahunnya yang ke-17 ia mendapat hadiah special dari papa dan mamanya yaitu sebuah mobil, sekarang Nathanpun sudah mempunyai SIM jadi dia tidak takut kalau harus pergi jauh menggunakan mobil

“pa ma aku pergi ya” Callystapun segera berpamitan dengan Mama dan Papanya
“Nathan juga ya” Nathan juga berpamitan
“hati-hati ya, belajar yang bener!” perintah mama
“sip maa” jawab mereka berbarengan

Mobil yang dibawa Nathanpun melesat cepat, kurang lebih 15 menit merekapun sampai disekolah. Callysta langsung pergi ke kelas dengan langkah yang cepat, tanpa sengaja ada seseorang yang menabraknya sehingga buku yang ia bawa terjatuh semua.

“heh kalo jalan tuh pake mata dong!” ucap Callysta dengan kesal
“setau gue jalan itu pake kaki deh bukan mata” jawab cowo itu dengan santai seperti tidak merasa bersalah karna telah menabrak Callysta “nih buku-buku lo” sambungnya sambil ngasih buku-bukunya yang tadi terjatuh

Tanpa berkata apa-apa Callysta langsung mengambil bukunya dan langsung pergi meninggalkan cowo itu. Callysta akhirnya sampai dikelasnya.

“callysta! Sini deh gue mau cerita nih” sapa Vanya teman dekat Callysta
“apaan sih? Eh van tadi…” Callysta belum menyelesaikan omongannya namun Vanya langsung menyerobotnya
“ada anak baru loh disekolah kita, katanya dia itu ganteng! Aaaa gue mau liat nih, semoga dia satu kelas sama kita” ucap Vanya dengan semangat
“anak baru?”
“iya anak baru cowo katanya dia kelas 11 dan dia itu ganteng!”
“tau dari mana lo dia ganteng? Emang udah ketemu?”
“belum sih” raut wajah Vanya berubah menjadi lemah “tapi gue yakin gue akan ketemu sama dia!”

Callysta hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, bel masukpun berbunyi. Ternyata benar ada anak baru disekolahnya malah anak baru itu sekelas dengannya, dan ternyata benar kata Vanya anak baru itu memang ganteng, setelah Callysta sadari ternyata anak baru itu adalah orang yang nabraknya tadi.

“nama saya Jonathan” ucap cowo itu memperkenalkan diri
‘itukan orang yang tadi nabrak gue, kenapa harus sekelas? Sial banget deh’ batin Callysta
Callysta memandangi Vanya yang sedang senyum-senyum sendiri “eh itu anak barunya?” Tanya Callysta
“iya, doa gw terkabulkan cal” jawab Vanya dengan senyum bahagianya
“itu sih gue udah pernah ketemu” sambung Callysta dengan muka betenya
“kapan? Kok lo ga ngasih tau gue?”
“tadi pagi pas gue baru dateng, gimana gue mau ngasih tau ke lo, tadi gue lagi ngomong lonya nyerobot gitu aja” jawab Callysta sinis
                                                                               
~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~


Sebulan berlalu sekarang Callysta dan Jonathan menjadi dekat, entah apa yang membuat mereka bisa menjadi teman dekat mungkin karna mereka satu kelas dan malahan mereka duduknya dekatan yang membuat mereka menjadi dekat.
Jonathan sedang menunggu Callysta di kantin namun Callysta belum juga muncul. Callysta yang baru saja datang langsung segera kekantin, ia lari menuruni anak tangga dan langsung segera menghampiri Jonathan yang sudah berada di kantin.
“aduhh sorry ya gue telat” ucap Callysta dengan nada ngos-ngosan
“ga apa-apa kok, lagian lo kenapa ga ngerjain PR semalem aja sih?” jawab Jonathan “10 menit lagi bel, percuma gue dateng lebih pagi kesekolah”
“maaf banget ya jo tadi si Nathan lama gue harus nungguin dia” Callysta langsung segera menyalin tugas Jontahan dibuku tugasnya, Jonathan hanya terdiam dan memandanginya
Bel masukpun bunyi, mereka berdua langsung segera masuk ke kelas karna kebetulan guru matematikanya ini lumayan galak dan untungnya PR Callysta sudah selesai jadi tidak jadi dihukum, itu semua berkat Jonathan yang mau menunggu dan memberikan tugasnya pada Callysta.

  
                                                             ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~


Sepulang sekolah
“gue balik duluan ya cal, jo” ucap Vanya
“yaah gue belom dijemput nih” jawab Callysta sambil melihat jam berwarna putih yang ada ditangannya
“lo sama gue aja” sambung Jonathan yang membuat Callysta terkejut
“tuh kan ada Jonathan, gue mau buru-buru sampe rumah nih soalnya nyokap mau ngajak shopping” jawab Vanya sambil tersenyum “yaudah  gue balik duluan ya byeee” Vanya melambaikan tangannya dan langsung pergi meninggalkan Callysta dan Jonathan

Callysta dan Jonathan duduk disebuah bangku yang berada didepan dekolah

“kok tumben dijemput sama supir?” Tanya Jontahan
“Nathannya pergi kemana tau” jawab Callysta sambil cemberut
“sering-sering deh dia pergi biar gue bisa nemenin lo sampe dijemput”
Callysta menatap Jonathan bingung “ha? Maksudnya?” tanyanya

Jonathan hanya tersenyum, suasana menjadi hening beberapa menit. Sampai sekarang Callysta masih belum dijemput oleh supirnya itu, sekolah semakin sepi dan malah tinggal mereka yang masih berada disekolah. Callysta mulai ngajak ngobrol jonathan agar suasananya tidak terlalu sepi.

“eh pinjem tangan lo deh” ucap Callysta yang langsung menarik tangan kiri Jonathan “gue mau ngeramal” lanjutnya. Callysta melihat tangan Jonathan, jonathan hanya terdiam memandangi Callysta “hmm lo itu anaknya rese, ngeselin, nyebelin tapi sebenarnya lo tuh baik haha” lanjut Callysta sampai tertawa
Jonathan hanya diam sambil memandang Callysta yang sok menjadi peramal

Tiba-tiba ada klakson mobil bunyi dan berhenti didekat mereka duduk, Callysta yang sedang memegang tangan Jonathan langsung bangun dari duduknya.

“gue udah dijemput, thanks ya udah nungguin gue” ucap Callysta dan langsung jalan menuju mobil sedan ternyata yang jemput dia adalah Nathan bukan supirnya “byee” lanjut Callysta lalu masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya
Jonathan tersenyum dan membalas lambaian tangan Callysta.

Diperjalan Nathan yang sedang menyetir senyum-senyum dan membuat Callysta yang ada disebelahnya bingung

“kenapa sih senyum-senyum? Lagi seneng?” Tanya Callysta bingung
“itu orang yang waktu itu lo certain ke gue? Yang katanya sombong dan ngeselin itu?” jawab Nathan sambil mengingat kembali apa yang pernah adiknya ceritakan itu
“iya” jawab Callysta singkat
“orang baik kaya gitu dibilang ngeselin? Yaampun callysta callysta”
“ih tapi dulu tuh dia jutek, sombong dan ngeselin banget pokonya”
“tapi sekarang?”
“baik banget” jawabnya yang langsung memalingkan wajahnya dari kakaknya itu
“ciee terus lo sekarang pacaran sama dia?”
Callysta langsung nengok kearah Nathan “hah? Siapa yang pacaran? Kita tuh Cuma temen”
“itu buktinya tadi pegangan tangan? Hayoo ngaku deh sama gue”
“ih engga, tadi tuh Cuma lagi bercanda”
“bercanda tapi kok mukanya merah sih?” kali ini Nathan puas menertawakan Callysta
“tau ah, yang pasti kita Cuma temenan!” Callysta ngambek

                                                               ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~
 

Kini Jonathan dan Callysta semakin dekat. Jontahan yang kebetulan lebih pintar dari Callysta dalam pelajaran kini setiap ada pelajaran yang Callysta tidak mengerti ia selalu mengajarkannya. Ada PR matematika dan itu adalah pelajaran yang sangat Callysta benci, menurut Callysta matematika adalah musuh terbesarnya karna pelajaran itu sangat membingungkan dan harus selalu memutar otak.

Callysta yang sedang sibuk memperhatikan Jonathan yang sedang mengajarinya “aduh gue pusing” celetuk Callysta “gue ga ngerti ah, ini kenapa bisa dapet 2?” Tanya Callysta sambil menunjuk bukunya itu

“ini tuh karna 4 dibagi 2 makanya hasilnya 2” jelasnya
“bingung” jawab Callysta sambil nyengir
“yaudah ulang deh dengerin nih” Jonathan mengulang menjelaskan lagi apa yang sudah dia jelaskan ke Callysta barusan “x nya 4 berarti 4 dibagi 2 nah jadi..” Jonathan menghentikan pembicaraannya
Callysta langsung mendongak melihat ke arah Jonathan yang tiba-tiba menatapnya dan berhenti bicara “jadi?” Tanya Callysta bingung
“jadi… kita jadian aja yuk” ucap Jonathan sambil melihat ke arah Callysta “mau ga?” tanyanya lagi

Callysta terkejut, jantungnya kini berdegup dengan kencang. Apa yang harus ia lakukan? Callysta bingung menjawab  pertanyaan Jonathan. Jonathan cowo yang awalnya jutek dan ngeselin namun sekarang menjadi baik dan kini menjadi teman dekat Callysta.


Iya atau Tidak? Terima atau Tolak? Inilah pertanyaan yang muncul dalam diri Callysta. Apakah Jonathan tulus? Atau malah mempermainkannya? Perasaan Callysta benar-benar campur aduk antara senang dan bingung, perasaan Callysta ke Jonathan memang berbeda entah mengapa saat dekat Jonathan Callysta merasa bahagia dan nyaman banget. Apa yang harus ia lakukan?

“lo ga lagi bercanda kan?” tanyanya
“kan lo sendiri yang bilang gue tuh orangnya serius” jawabnya “jadi gimana?” tanyanya lagi
“gimana apanya?” jawab Callysta berpura-pura
“ya lo mau terima gue apa engga?”
Callysta tampak sedang memikirkannya ‘terima tolak terima tolak terima tolak terima’ batin Callysta
Setelah beberapa menit Callystapun akhirnya mengangguk dan tersenyum ke arah Jonathan “iya gue mau kok jadi pacar lo” lanjutnya
Jonathan tersenyum “yaudah sekarang kalo pacarnya lagi jelasin harus diperhatiin yang bener”
“iya iya” jawab Callysta
Jonathan mulai menjelaskan lagi tapi kali ini Callysta malah memperhatikan Jonathan bukannya memperhatikan bukunya. Dan merekapun malah bercanda dan tertawa bahagia

                                                            ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~




Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu rumah Callysta, Nathan yang lagi diruang TV langsung membukanya
“eh kak Nathan” sapa Vanya didepan pintu “Callystanya ada kak?” tanyanya
“eh vanya kirain siapa, ada tuh dikamarnya masuk aja” jawab Nathan
“oh yaudah deh kak aku langsung ke kamarnya Callysta ya?”
“oh yaudah”

Vanya langsung naik ke atas dan langsung masuk ke kamarnya Callysta. Di dalam kamar Callysta sedang asik telponan

“nanti aku telpon lagi ya, ada vanya nih” ucap Callysta ditelpon
“ngapain vanya kerumah kamu? Ganggu aja deh” jawab Jonathan
“biasalah main hehe”
“yaudah bye, love you”
“love you too” Callysta langsung mematikan teleponnya
Vanya langsung duduk ditempat tidurnya Callysta “pantes gue telpon ga bisa, lo nya lagi sibuk teleponan” ujar Vanya sambil manyun
“hehe maaf van gue pikir lo sore dateng kerumah guenya” jawab Callysta
“lo pacaran sekarang sama Jonathan?” tanyanya kaget
“iya, gue seneng banget rasanya van” jawab Callysta yang langsung memeluk boneka kesayangannya
“traktir yee ga mau tau!”
“sip tenang aja” jawab Callysta “eh van kayanya Jonathan itu cinta pertama dan terakhir gue deh” sahutnya
“kenapa gitu?” Vanya bingung
“iya jonathan itu kan pacar pertama gue, nah gue rasa jonathan adalah pacar terakhir gue. Soalnya gue tuh sayangnya pake banget sama dia” Callysta nyengir-nyengir
Vanya tertawa “yaudah gue doain deh kalian langgeng sampe tua kalo bisa”
“amin amin semoga dia yang terakhir!”
“amin” Vanyapun tersenyum “eh cal, kak Nathan ganteng ya?” Tanya Vanya tiba-tiba
“Nathan?” Callysta bingung
“iya kak Nathan, lo tuh beruntung tau cal punya kakak ganteng dan baik kaya dia” Vanyapun memuji-muji Nathan
“wah wah jangan-jangan…” Callysta menghentikan omongannya
“jangan-jangan apa?” Vanya bingung
“naksir ya sama Nathan?” ledek Callysta
“apaan sih engga kok yee” bantah Vanya
Callysta tertawa “ciee mukanya merah”
“udah deh cal, gue ga naksir tau”
“terus kalo ga naksir kenapa tiba-tiba nanyain Nathan? Hayooo”
“ya gue Cuma sekedar nanya doang cal ga lebih”
“yaudah deh iya, makan yuk laper nih” ajak Callysta
“makan? Ayo gue juga laper nih”
“yaudah yuk”
“sekarang?” Tanya Vanya
“iya ayoo” Callysta menarik tangan Vanya

Mereka berdua turun ke bawah. Dibawah tepatnya ruang TV ada Nathan yang sedang asik nonton sendirian

“nat temenin yuk” ucap Callysta yang langsung menghampiri Nathan
“kemana?” jawab Nathan yang sedang mengganti-ganti Channel TV
“makan, laper nih”
“makan apaan?”
“udah pokoknya makan diluar, ayoo gue traktir deh” rayunya
“yaudah gue ganti baju dulu” Nathan langsung ke atas dan memasuki kamarnya yang berada disebelah kamar Callysta
“kok lo ngajak kak Nathan sih?” Tanya Vanya
“emang kenapa? Kan biar lo bisa deket sama Nathan” jawab Callysta dengan nada meledek
Vanya hanya terdiam, tak lama kemudian Nathan datang dengan menggunakan kaos warna putih dan celana jeans pendek sambil membawa handphone dan kunci mobil.

Merekapun langsung pergi ke sebuah rumah makan yang jaraknya ga begitu jauh dari rumah Callysta

“nat kayanya ada yang naksir sama lo deh” ujar Callysta sambil meminum strawberry smoothie pesanannya itu
“siapa siapa?” Tanya Nathan antusias
“lo perhatiin aja orang yang dari tadi merhatiin lo” Jawab Callysta memberi kode
Nathan langsung nengok kearah Vanya yang sedang mengaduk-ngaduk lemon teanya sambil melihat kearah Nathan. Sepertinya Nathan tau siapa yang naksir dengannya.
“vanya?” ucapnya yang membuat lamunan Vanya buyar
“kenapa kak?” Tanya Vanya gugup
“ga apa-apa kok” jawab Nathan dengan senyum manisnya
“eheeem batuk deh gue” ledek Callysta “kenapa kalian ga jadian aja? Gue setujuin deh” lanjutnya
“hah? Jadian? Lo gila cal?” jawabnya “jadian itu harus didasari dengan cinta! Bukan hanya sembarang jadian” ucapnya lagi
“gue setuju sama vanya, tapi kata callysta bener juga sih” sambung Nathan
“maksudnya kata callysta bener itu apa?” Vanya mulai bingung
“cari tau aja sendiri”

                                                                    ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~


Sebulan sudah Jonathan dengan Callysta pacaran. Hari ini Jonathan mengajak Callysta kesuatu tempat, sebuah taman yang sangat indah dan suasana yang sangat romantic. Jonathan yang memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan lengannya sengaja digulung terlihat lebih keren dan ganteng, sementara Callysta memakai dress selutut yang simple berwarna abu-abu dengan rambut panjangnya yang terurai dan ada pita kecil yang menghiasi rambutnya itu membuatnya menjadi wanita simple yang sangat cantik.
“happy anniversary dear” Ucap Jonathan dengan membawa bunga mawar
“waah” jawabnya yang langsung mengambil bunga yang diberikan Jonathan “aku ga nyangka kamu inget anniv kita, makasih ya”
“sama-sama sayang” Jawab Jonathan sambil tersenyum “love you Callysta” sambungnya
“love you too jo”
“hari ini kamu cantik banget deh” puji Jonathan
“jadi cantiknya Cuma hari ini? Hari-hari biasa jelek dong?” Jawab Callysta sambil cemberut
“ga gitu maksudnya. Kamu tuh hari ini keliatan lebih cantik dari biasanya” jawab Jonathan dengan nada yang sangat lembut “jangan cemberut gitu dong, duduk yuk” ajaknya

Mereka berduapun duduk disebuah kursi yang disekelilingnya ada banyak lilin yang menyala, dibelakang bangku itu ada air mancur yang didalam kolamnya ada sekumpulan lilin membentuk hati dan itu sangat indah.

“kamu yang buat ini semua?” Tanya Callysta
“iya, kamu suka ga?” Tanya Jonathan balik
“aku suka banget” Callysta tampak menikmati suasana di taman ini “pokoknya aku ga bakal ngelupain hari ini”
“kok gitu?”
“iya soalnya hari ini tuh hari yang paling istimewa buat aku” Callysta tersenyum "eh iya kamu kemana aja sih? kayanya belakangan ini kamu ga pernah temuin aku?" tanya Callysta
"aku.. aku lagi sibuk aja makanya ga bisa ke kamu" Jabaw Jonathan gugup
"sibuk? sibuk ngapain?" Callysta bingung sepertinya tugas sekolah ga ada lalu kenapa Jonathan sibuk? bahkan sekolah saat ini sudah libur.
"emm aku sibuk beres-beres rumah" kali ini Jonathan semakin gugup bahkan dia ga berani menatap mata Callysta
"tumben kamu rajin, biasanya males" jawab Callysta meledek
 
Mereka berduapun tersenyum dan menikmati suasana malam yang sangat indah ini, hingga akhirnya menjadi hening beberapa menit
“cal” tegur Jonathan
Callysta langsung melihat kearah Jonatahan
“aku boleh ngomong sesuatu?” lanjut Jonathan yang langsung menatap Callysta.
Callysta hanya mengangguk dan tersenyum kearah Jonathan
“kayanya…” Jonathan menghentikan pembicaraannya dan membuat Callysta semakin bingung “kayanya hubungan kita cukup sampai disini”
Callysta terkejut mendengar perkataan Jonathan “maksud kamu?”
“iya kayanya lebih baik kita putus aja” jelasnya
“kamu bercanda? Aduh jo jangan bercanda gitu dong”
“aku ga lagi bercanda, kan kamu sendiri yang bilang kalo aku tuh orangnya serius” Jonathan semakin menatap Callysta
“kenapa?” Tanya Callysta  “Kenapa tiba-tiba kamu ngomong itu” mata Callysta mulai berkaca-kaca
“maaf cal” Jawab Jonathan singkat dan langsung bangun dari duduknya
“joo” Callysta menarik tangan Jonatahan “kenapa? Aku salah apa sama kamu? Kayanya hubungan kita baik-baik aja sampai saat ini. Jonathan jawab pertanyaan aku” kali ini air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi
Jonathan menatap kearah Callysta dan menghapus air mata Callysta dengan tangannya “maafin aku cal” Jonathanpun mengecup kening Callysta “aku sayang sama kamu” bisiknya
Jonathan langsung pergi meninggalkan Callysta, sementara Callysta masih terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.
“jo.. Jonathan” panggilnya. Namun Jonathan hanya membalikan badannya dan langsung pergi meninggalkan Callysta

Kenapa tiba-tiba Jonathan meninggalkannya? Apa salah Callysta? Baru saja jonathan mengucapkan ‘I love you’ dan kini ia memutuskan Callysta. Callysta tidak mengerti semua ini, perasaannya saat ini adalah kecewa dan sakit hati. Apa yang sebenarnya terjadi sama Jonathan?


                                                                  ~(˘▾˘~) (~˘▾˘)~

Dari semalem hingga saat ini Callysta masih mengurung diri dikamar. Callysta masih saja menangis dan kini matanya membengkak. Jonathan adalah pacar pertama Callysta tapi Jonathan sangat membuat Callysta kecewa
“cal..” ucap Nathan sambil mengetuk pintu kamar Callysta yang terkunci “ada yang harus gue omongin, buka pintunya cal” suruh Nathan
“apa?” jawab Callysta yang masih belum membukakan pintu
“ini tentang Jonathan, cepetan buka pintunya”
Callysta langsung membuka pintu “apaan?” tanyanya dengan wajah pucat
“tadi mamanya Jonathan telepon kerumah, katanya handphone lo ga aktif” jawab Nathan “jonathan…” Nathan menghentikan pembicaraannya
“jonathan kenapa nat?” Tanya Callysta kaget
“Jonathan ada dirumah sakit”
“hah? Jonathan dirumah sakit?” Tanya Callysta tidak percaya “dia kenapa?” Callysta semakin penasaran
“sekarang dia kritis cal, sebaiknya lo cepetan kesana deh”
“a.. apa? Jonathan kritis?” Callysta terkejut kini tubuhnya bergetar mendengar semua tentang Jonathan “ayo temenin gue kerumah sakit sekarang nat!” Callysta langsung menarik tangan Nathan

Callysta dan Nathan langsung segera pergi kerumah sakit tempat Jonathan dirawat, Nathan membawa mobilnya dengan cepat dan sampai akhirnya merekapun sampai. Callysta langsung segera lari dan mencari ruangan Jonathan.

Callysta menemukan ruangan Jonathan dan didepan ruangan itu ada keluarga Jonathan yang semuanya sedang menangis, Callysta yang kebetulan sudah mengenal mamanya Jonathan langsung menghampirinya.
“tante Jonathan kenapa tan?” Tanya Cllysta panik
“callysta” Mamanya langsung memeluk Callysta “Jonathan.. kedaan jonathan semakin memburuk” lanjut mamanya Jonathan
“Jonathan kenapa tante? Kenapa tiba-tiba dia sakit dan langsung kritis kaya gini?”
“sebenarnya Jonathan sakit ini sudah cukup lama” Mamanya Jonathan melepaskan pelukannya
“sakit?” jawab Callysta kaget “sakit apa tante? Kenapa ga ada yang bilang kalo jonathan itu sakit?”

Mamanya mengajak Callysta duduk agar lebih tenang
“sebenarnya Jonathan sakit cal, tante disuruh untuk tidak memberitahu siapapun terutama kamu karna jonathan ga mau kalo kamu sedih dan kahwatir dengan kondisinya” ucap Mamanya “Jonathan juga sebenarnya sudah beberapa hari ini dirawat dirumah sakit, tapi kemarin malam dia minta izin sama tante untuk bertemu dengan kamu. Tante sebenarnya tidak mengizinkan tapi Jonathan tetap mau pergi dan tante ga bisa melarangnya, dia bilang kalau dia pergi untuk merayakan anniv satu bulan dengan kamu” jelas Mamanya yang langsung meneteskan air mata.
Callystapun juga ikut menangis karna dia baru tau Jonathan sakit
“kondisinya semakin melemah, sekarang mending kamu temuin Jonathan saja didalam” lanjut Mamanya
“iya tante, aku kedalem dulu ya” Callysta langsung terbangun dari duduknya dan langsung masuk kedalam ruang ICU karna sekarang Jonathan berada diruangan itu.

Callysta membuka pintunya perlahan dan masuk ke dalam, disana terlihat Jonathan yang sedang berbaring ditempat tidur dan menggunakan alat-alat medis
“jo..” panggil Callysta yang langsung meneteskan air matanya melihat Jonathan sedang terbaring ditempat tidur. Callysta langsung duduk dibangku yang ada disebelah tempat tidur “jo bangun, aku disini jo”
Tak lama kemudian Jonathan membuka matanya “callysta” ucapnya dengan nada yang sangat pelan
“iya jo aku disini” air mata Callysta semakin deras “kamu kenapa sih ga bilang kalo kamu sakit parah kaya gini? Aku juga harus tau keadaan kamu jo, aku kahwatir banget sekarang” lanjutnya
“aku ga mau kamu sedih, maaf cal maafin aku” jawab Jonathan
“aku lebih sedih kalo dibohongin kaya gini” suara Callysta mulai terisak-isak “kamu harus sembuh jo aku akan nunggu kamu terus”
“aku ga bisa” Jonathan memegang tangan Callysta dengan erat “maafin aku”
“engga jo, kamu pasti bisa. Aku percaya kok kamu bisa”
Jonathan semakin erat menggenggam tangan Callysta
“aku sayang banget sama kamu, love..” napas Jonathan mulai sesak “love you Callysta” napas Jonathan semakin sesak, Jonathan menutup matanya dan secara perlahan melepaskan genggaman tangannya.
“jo.. kamu harus sembuh” jawab Callysta yang langsung memegang erat tangan Jonathan “bangun jo, aku mau kamu bangun sekarang!” Callysta mengguncang-guncangkan tubuh Jonathan namun Jonathan tetap tidak bangun “jonathan…” teriak Callysta

Dokter, suster dan keluarganya Jonathan langsung masuk kedalam ruangan. Sepertinya mereka semua sudah tau kalau Joantahan akan pergi. Mamamnya Jonathan langsung menghampiri Callysta yang masih memegang erat tangan Jonathan
“maafin Jonathan ya cal, ikhlaskan dia pergi” ucap Mamanya sambil mengelus-ngelus kepala Callysta
Kali ini tangisan Callysta semakin kencang dia sudah tidak bisa membendung air matanya “love you too jo, semoga kamu tenang disana” bisik Callysta
Suasana diruangan semakin sedih, semuanya menangis. Jontahan yang terlihat sehat didepan Callysta namun ternyata dia terkena penyakit parah yang langsung menggerogoti tubuhnya. Kurang lebih 2minggu Jonathan mulai sakit dan sekarang Jonathan dengan cepat pergi meninggalkan Callysta, meninggalkan keluarganya dan meninggalkan orang-orang yang disayanginya.

“kak callysta” sapa anak kecil sekitar umur 8 tahunan, dia cantik dan sepertinya mirip dengan Jonathan dia adalah Jeniffer adiknya Jonathan
Callysta mendongak kearah Jeniffer dan menatapnya
“tadi sebelum kak Jonathan pergi, kak Jonathan nitip ini buat kakak” Jeniffer memberikan sebuah boneka yang lumayan besar dan ada selembar amplop berwarna pink
“buat aku?” Tanya Callysta bingung
“iya kak”
Callysta langsung mengambilnya, Jeniffer meninggalkannya sendirian.
Callysta langsung segera pergi ke taman yang kemarin, dimana tempat itu adalah tempat terakhir Callysta dan Jonathan bertemu dan bersama-sama. Callysta duduk dibangku yang kemarin ia duduki bersama Jonathan untuk yang terakhir kalinya. Callystapun membuka secara perlahan amplop pink yang dibawahnya bertuliskan namanya ‘Callysta’

Dear Callysta,

Mungkin surat ini adalah surat terakhir yang bisa aku buat untuk kamu
Maaf Cuma itu yang bisa aku ucapkan ke kamu
Maaf karna aku ga bisa menjadi yang terbaik buat kamu
Maaf kalau aku ga bisa nepatin janjiku buat terus sama kamu
Maaf aku harus pergi ninggalin kamu
Maaf aku ga bilang kalo aku sakit, itu semua karna aku ga mau kamu sedih aku ga mau kamu kahwatir
Kamu itu adalah bidadari yang turun dari langit yang paling indah dimataku
Kamu orang yang pertama dan terakhir yang ada dihatiku saat ini
Makasih ya cal, kamu udah buat aku bahagia selama aku pacaran sama kamu
Kalau aja aku diberi satu permintaan, aku pasti akan minta untuk hidup dan bisa membahagiakan kamu setiap hari bahkan setiap saat
Jujur aku sedih pas tau aku sakit
Karna aku tau pasti aku akan pergi ninggalin kamu, aku akan membuat kamu kecewa dan aku akan membuat kamu sedih

Callysta..
Aku ga mau kamu terus-terusan nangis dan sedih karna aku
Aku mau mulai hari ini kamu harus menjadi Callysta yang dulu, Callysta yang pernah aku kenal, Callysta yang sangat ceria
Aku sayang banget sama kamu, sampai kapanpun sayang aku ini tetap buat kamu
Love you Callysta Tan

                                                                                                                        Jonathan


Lagi-lagi Callysta menangis, Callysta langsung mengambil boneka disebelahnya. Ternyata diboneka itu ada sebuah tombol dibagian perutnya, Callysta langsung segera menekan tombol yang berwarna biru itu
“I love you Callysta. Jangan sedih lagi ya, aku akan sedih kalau kamu sedih. Keep smile” suara rekaman Joanthan
Ternyata Boneka itu ada rekaman suaranya, Jonathan sengaja memberikan itu kepada Callysta sebagai hadiah terakhir untuknya
“aku akan coba untuk ga sedih, makasih ya udah muncul dikehidupanku. I love you jonathan” ucap Callysta yang kemudian tersenyum dan langsung memeluk boneka pink miliknya itu.


    - END -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar